Mitos Bersin: Drama Besar yang Diciptakan Dari Hidung Gatal


Pernah mengalami bersin? Satu kali? Dua kali? Tiga kali? berkali-kali dan berturut-turut? Itu tanda apa kira-kira? Mari kita pelajari dunia bersin ini dari berbagai perspektif, yang mungkin kalian belum pernah sama sekali mendengarnya.


Di negeri yang konon menjunjung tinggi logika, setidaknya menurut buku pelajaran sekolah dasar, bersin tidak pernah dianggap sebagai sekadar aktivitas sederhana. Tidak. Itu terlalu miskin imajinasi.


Di Jawa, bersin adalah notifikasi alam semesta. Kalau manusia sudah bisa membaca notif WhatsApp, orang Jawa jauh lebih unggul: notif bersin. Satu kali bersin berarti ada yang kangen. Dua kali bersin berarti ada yang ngomongin. Tiga kali bersin berarti masuk angin, tapi tetap bisa dianggap “ada tanda-tanda tertentu”.


Iya, jawaban mitos adalah hak setiap manusia dalam menjelaskan fenomena, tetapi begitulah, bahkan dari perspektif medis sekalipun bisa tertolak mentah-mentah. Sebab, mitos lebih seru, dan masyarakat kita memang punya bakat alami untuk menolak logika kalau tidak mengandung plot twist.


Psikologi menjelaskan bahwa manusia memang suka mengarang hubungan sebab-akibat meski tidak ada datanya. Ini gejala normal. Tapi budaya Jawa melihat ini sebagai peluang bisnis spiritual penuh warna. Dengan modal satu gejala biologis, bisa lahir teori-teori megah tentang perasaan orang lain, pergerakan energi gaib, hingga analisis hubungan percintaan.


Mitos Bersin dan Teknologi Sosial Manusia


Ada satu fenomena menarik soal ini misalnya: Orang yang sedang bergosip suka tiba-tiba bilang, “Eh, tadi kamu bersin ya? Itu tandanya ada yang ngomongin kamu.” Padahal yang ngomongin siapa? Ya dia sendiri.


Di titik ini, bersin tidak hanya jadi mitos, tetapi juga alat kamuflase moral. Orang merasa aman bergosip sambil menyalahkan hidung korban. Sungguh teknologi sosial yang maju.


Terkadang, muncul fenomena aneh bin ajaib lagi soal bersin ini, dimana bersin sangat berkaitan dengan keputusan yang akan diambil. Apalagi, ketika mitos bersin ini dipakai untuk mengambil keputusan penting.


Misalnya: Mau pergi tapi bersin dua kali, “Tandanya ora apik, tunda sik.” Mau ketemu calon mertua eh tapi bersin dulu, “Ini isyarat leluhur, jangan memaksa.” Mau ujian, lalu kok tiba-tiba bersin, “Mesti ada yang mikirin… semoga bukan pengawas.” Lalu, apa yang terjadi? Keputusan ini sungguh keputusan diluar logika. Ya walaupun mungkin masih masuk logika mistika sih.


Kalau budaya Jawa suka memberi makna pada hal-hal kecil, itu bagus. Kita tahu, itu seni dan kreatifitas manusia. Tapi ketika makna-makna itu diperlakukan lebih penting dari ilmu pengetahuan, kita sedang bermain jungkat-jungkit antara warisan budaya dan ketidakwarasan logika.


Pada akhirnya, kita boleh bercanda, boleh percaya setengah hati, boleh menganggap bersin sebagai “kode alam” supaya hidup sedikit dramatis seperti drama korea. Ada kalanya bersin hanyalah bersin. Dan tidak semua kejadian dalam hidup perlu diberi narasi yang lebih heboh daripada sinetron Indosiar, Drakor dan Drama Cina yang bikin geregetan.


Kalau Anda bersin saat membaca tulisan ini, tenang saja.Itu bukan tanda alam. Bukan juga seseorang sedang memikirkan Anda, apalagi pacar, mantan, gebetan dan selingkuhan. Mungkin cuma karena tulisan ini pedas dan satir sampai membuat hidung Anda gatal.


Post a Comment

Previous Post Next Post