Sudah hampir 2 tahun ini saya merokok kretek dengan hampir tidak pernah gonta-ganti yaitu satu, rokok Dji Sam Soe Refil. Tapi, akhir-akhir ini saya merasa ada yang berbeda dari biasanya yaitu keluar lendir banyak, tenggorokan panas dan terasa terbakar, dan batuk. Gejala ini biasanya paling sering muncul di pagi hari, bahkan mirisnya lagi kadang setelah saya selesai atau saat merokok.
Begitulah, saya merasakan perbedaan cukup signifikan dari gejala-gejala efek dari rokok yang sebelumnya saya konsumsi seperti rokok MLD (bungkus warna hitam) dan Surya 12 (bungkus merah coklat) yang tampaknya tidak separah sekarang. Kedua jenis rokok itu saya hisap sewaktu masih berkuliah di Kampus IAINU Kebumen (kira-kira semester 4).
Perlu diketahui bahwa, merokok kretek ternyata sering kali dianggap sebagai bagian dari budaya dan gaya hidup di Indonesia. Aroma cengkeh yang khas dan rasa “tidak biasa” saat dihisap dalam-dalam memberi sensasi kenikmatan tersendiri bagi perokoknya. Bagi yang tidak pernah merokok mungkin sulit menerka-nerka rasanya, tapi bagi perokok "handal" pasti paham bagaimana rasanya dan kenapa mencoba melakukan itu.
Namun, di balik kenikmatan sesaat itu, tubuh sering kali memberikan peringatan yang sangat jelas: keluarnya lendir berlebihan, tenggorokan terasa panas seperti terbakar, disertai batuk yang terus-menerus. Gejala-gejala ini bukan sekadar “efek samping biasa” yang bisa diabaikan, melainkan respons pertahanan alami tubuh terhadap agresi kimia dan fisik yang ditimbulkan asap kretek.
Antara Rokok Kretek dan Rokok Filter
Asap rokok kretek berbeda dari rokok putih biasa. Selain nikotin dan tar, kretek mengandung minyak cengkeh yang kaya akan senyawa eugenol. Ketika dibakar, eugenol dan ratusan zat kimia lainnya berubah menjadi partikel panas dan senyawa iritatif yang langsung menyerang lapisan mukosa saluran napas bagian atas dan bawah.
Lapisan mukosa yang sehat seharusnya dilindungi oleh lapisan lendir tipis dan silia (rambut halus) yang terus bergerak untuk menyapu kotoran. Namun, ketika terpapar asap kretek secara intens, silia menjadi lumpuh, mukosa mengalami radang akut, dan kelenjar lendir bekerja berlebihan untuk “mencuci” zat-zat berbahaya tersebut. Hasilnya adalah tenggorokan yang terasa panas, batuk refleks, serta produksi lendir (dahak) yang jauh melebihi normal.
Batuk yang muncul setelah merokok kretek bukanlah batuk biasa. Ia adalah bentuk protes tubuh yang paling vokal. Pada perokok rutin, batuk ini sering kali menjadi kronis, dikenal sebagai smoker’s cough atau batuk perokok, yang biasanya memburuk di pagi hari karena akumulasi lendir semalaman. Jika dibiarkan berlarut-larut, iritasi berulang ini dapat berkembang menjadi bronkitis kronik, bahkan meningkatkan risiko penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan kanker paru di kemudian hari.
Iya begitulah kira-kira yang saya baca dari artikel, walaupun belum begitu memahami secara mendalam, akan tetapi saya mulai merasakan beberapa hal yang disebutkan di atas. Khususnya bagian batuk dan produksi lendir berlebih. Awalnya saya anggap ini normal saja, sebab di pagi hari keluar lendir dari tenggoran itu pernah saya alami sebelum merokok. Bahkan setelah saya tadarus (membaca) Al-Quran di pagi hari (ba'da subuh).
Tanda-Tanda yang Salah Dipahami
Ironis memang, banyak perokok yang justru menganggap gejala ini sebagai “tanda rokoknya enak” atau “badan lagi membersihkan diri”. Padahal, tubuh sedang berteriak minta tolong. Setiap serangan batuk berdahak, setiap rasa panas di tenggorokan, adalah sinyal bahwa lapisan pelindung saluran napas sedang rusak dan berusaha memperbaiki diri. Semakin sering kita memaksa tubuh menghadapi asap kretek, semakin lemah kemampuan perbaikan tersebut, hingga suatu saat kerusakan menjadi permanen.
Pemulihan sebenarnya sangat sederhana: berhenti menghirup asap, minimal untuk sementara. Dalam hitungan hari, silia mulai bergerak kembali, produksi lendir berlebih berkurang, dan rasa panas di tenggorokan mereda. Air hangat, madu, jahe, serta istirahat total dari rokok adalah terapi paling efektif dan murah. Namun, yang sering kali sulit bukanlah pengobatannya, melainkan kemauan untuk menghentikan kebiasaan yang sudah mengakar.
Keluhan “keluar lendir, tenggorokan panas, dan batuk setelah merokok kretek” bukanlah hal sepele. Ia adalah cermin dari pertempuran kecil yang terjadi setiap hari di dalam tubuh perokok. Tubuh tidak pernah berbohong, ia selalu memberi tanda sebelum kerusakan menjadi tak terpulihkan. Pertanyaannya kini bukan lagi “kenapa saya batuk?”, melainkan “sampai kapan saya akan terus mengabaikan peringatan ini?”
Semoga gejala yang dialami saat ini menjadi titik balik, bukan sekadar episode yang berlalu lalu terulang kembali. Karena kesehatan saluran napas, pada akhirnya, ada di tangan kita sendiri, bukan di ujung filter rokok kretek. Begitu kira-kira sampai akhirnya saya memutuskan; untuk tetap merokok dengan ganti jenis rokok filter (bukan kretek). Hehehe
Post a Comment